Politics

Warga Tasikmalaya Terpaksa Antre Minyak Goreng Curah Mahal: Kacau, Pemerintah ke Mana

Merdeka.com – Dicabutnya kebijakan harga eceran tertinggi (HET) untuk minyak goreng kemasan, menjadikan sejumlah warga di Kota Tasikmalaya beralih ke curah. Untuk mendapatkan minyak goreng curah, warga pun harus berjuang dengan antre sejak subuh.

Di pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat antrean panjang nampak terlihat di sejumlah toko agen minyak goreng curah. Di antara mereka yang antre adalah untuk memenuhi kebutuhan harian di rumah, ada juga yang kemudian dijual kembali secara eceran.

Antrean diketahui terjadi karena stok minyak goreng curah yang disubsidi pemerintah dan HET RP14 ribu per liter di sejumlah agen di Kota Tasikmalaya mulai langka, bahkan kosong. Namun rupanya aturan HET tidak berlaku dengan kondisi tersebut, karena di tingkatan agen masih ada yang menjual Rp19 ribu per liter, dan saat dijual secara eceran mulai Rp21 ribu hingga Rp25 ribu per liter.

“Saya antre sejak subuh, sekitar pukul 04.30 WIB biar bisa dapat minyak curah murah dan bisa dijual lagi. Pas datang sudah banyak yang antre memang, dan harga minyaknya Rp19 ribu per liter. Tapi ini mah masih murah di banding yang kemasan,” kata salah seorang warga, Ade Suminar (42), warga Kabupaten Tasikmalaya saat antre di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya.

Dia menjelaskan bahwa sebelum antre sejak subuh, bersama pedagang lainnya dari Kabupaten Tasikmalaya sempat berkeliling ke sejumlah agen yang menjual minyak goreng curah sambil membawa beberapa jeriken. Namun ia bersama pedagang lainnya harus gigit jari karena ternyata sudah habis.

Ade mengatakan bahwa untuk pedagang, agen biasanya memberikan batasan penjualan maksimal 20 liter. Jika ia bersama pedagang beruntung, maka jatah tersebut bisa didapatkan. Namun jika tidak, maka harus pulang sambil membawa jeriken yang tidak terisi satu liter pun minyak goreng curah.

Di Pasar Cikurubuk, Ade mengaku bersyukur perjuangannya antre sejak subuh membuahkan hasil bisa membeli minyak goreng curah yang bisa dijual kembali. “Tapi harganya masih mahal, Rp19 ribu per liter, jauh dari HET. Tapi dari pada enggak dapat lah,” jelasnya.

Ia mengungkapkan bahwa seharusnya agen minyak goreng curah kepada pedagang eceran sepertinya menjual per liter Rp11.500 atau paling mahal di harga Rp14 ribu. Namun sejak kebijakan itu dikeluarkan, dia belum pernah mendapatkan hal tersebut.

“Kacau ini mah. Pemerintah ke mana, apa memang enggak pernah ngontrol di lapangan jadinya jual minyak goreng seenaknya saja tanpa mengikuti aturan yang ada. Kalau begitu mah udah saja weh enggak usah bikin kebijakan-kebijakan yang katanya pro rakyat kecil tapi fakta di lapangan mah masih lieur (pusing),” ungkapnya.

Warga lainnya yang ikut antre, Jajang Anwar (45) mengaku bahwa awalnya ia semangat karena akan mendapatkan minyak goreng murah. Oleh karenanya, meski antrenya cukup Panjang ia rela menahan rasa pegal.

Namun saat ia berhasil melewati antrean dan menyatakan membeli minyak kepada agen, Jajang mengaku sempat bingung karena harganya ternyata jauh dari HET.

“Selisih harganya Rp5 ribu dari HET yang ditetapkan pemerintah. Pantesan saja penjual eceran ada yang jual Rp25 ribu per liter, hampir sama dengan minyak goreng kemasan harganya,” ungkapnya.

Dia menduga bahwa nasib minyak goreng curah akan sama dengan yang kemasan. “Minyak goreng kemasan kan sekarang sudah banyak lagi karena kebijakan HET-nya sudah dicabut, tapi harganya mahal pisan. Minyak goreng curah juga kalau kebijakan HET-nya dicabut, bakal melimpah lagi. Lucu saja jadinya, murah tapi masih mahal juga. Cuma katanya saja disubsidi teh,” sebutnya.

Anwar mengatakan bahwa keberadaan minyak goreng curah memang susah ditemukan dari sejumlah agen di Kota Tasikmalaya. Dengan kelangkaan tersebut, menurutnya subsidi yang diberikan pemerintah pun tidak pernah dirasakan warga.

“Jadinya, jangankan untuk bisa mendapatkan minyak goreng murah, untuk dapat yang lebih mahal aja masih susah dan harus antre. Memang masih di bawah harga minyak goreng kemasan, jadinya kalau warga mah pasti ngejar yang lebih murah,” katanya.

Sementara itu, AI (52) salah seorang pelayan di toko agen minyak goreng curah menyebut bahwa di tempatnya memang minyak goreng curah dijual Rp19 ribu per liter. “Dijualnya memang segi, karena kita belinya masih mahal, di Rp18 ribu sampai Rp18.500 per liter. Kami juga memang batasi pembelian maksimal 20 liter per orang,” singkatnya.

[cob]




Source link

Leave a Reply

Your email address will not be published.

close